Kotamobagu- Sambe Sani, pria lansia 80-an tahun. Gegara faktor usia, dua telinganya sudah tak bisa lagi mendengar. Walau umurnya sudah sepuh, namun tak membuat semangatnya surut demi bertahan hidup, dari usaha tulang daun kelapa-lah jadi sumber pendapatannya.
Setiap hari, ia acap berkeliling di belakang rumah tetangga, di Kelurahan Genggulang Lingkungan I, RT II, Kotamobagu Utara, demi mendapat batang pohon kelapa yang masih bertulang, akan ia sulap jadi sapu lidi. Pekerjaan Sambe tersebut, bukan baru, melainkan sebelum ada wabah Corona, ia sudah bergelut dengan usaha tersebut.
Dalam sehari, dirinya bisa membuat sapu 1 hingga 2 ikat, per ikat diberi tarif Rp5.000 rupiah. Akan tetapi tergantung dari banyaknya tulang daun nyiur tersebut yang didapat. Sehingga pendapatannya pun tak menentu, bahkan dalam perbulan sangat beruntung sekali jika ia bisa meraup 50 ribu rupiah. Dirinya juga tak punya tempat untuk berdagang, apalagi rumah.
Sambe sendiri, tak memiliki anak, dan sang Istri tercintanya sudah meninggal dunia sejak lama. Untuk membantu berlangsung hidupnya, Perempuan yang berusia 61 tahun, yakni Jama Edu, Lansia Janda anak satu laki-laki, rela dan iklas memberinya tempat bertedu, sehingga ke dua orang tersebut tinggal se atap di rumah kayu, RT II, Genggulang.
Ibu Jama sendiri, tidak bekerja karena faktor usia, modal untuk usaha pun tak ada. Akan tetapi dis juga kerap mendapat bantuan dari Pemerintah Kotamobagu, sebagai menyambung hidup mereka, sebelum ada wabah Corona.
“Saya setiap bulan dapat bantuan dalam bentuk uang 100 ribu lebih, tapi dialihkan dalam bentuk beras 8 kilo dan 7 buah telur,” tutur Jama.
Saat disinggung bantuan dari pemerintah, ia juga mendapatkan. “Alhamdulillah ada,” sambungnya.
Sedangkan Sambe Sani sendiri, tak bisa berkomunikasi dengan jelas, saat media ini mewawancarainya. Sehingga, Jama yang memberikan tanggapan soal kakek tersebut. “Tetapi dia biar sudah tua, setiap hari mencari lidi, untuk dia buat sapu dan akan dia jual dengan harga 5000 rupiah, ada juga orang-orang yang datang di rumah untuk membeli sapunya,” ungkap Jama.
Saat ditanya usia Kakek Sambe, Jama menjawab. “Kurang lebih 80-an tahun, bahkan lebih, dia juga sudah tidak bisa mendengar, karena umur sudah tua,” ungkapnya.
Kalau ada warga Kotamobagu yang perlu sapu lidi, tak usah jauh-jauh mencarinya, Kakek Sambe solusinya, di Genggulang, kompleks Masjid At-Tawwab. (*)
BolmongPost | Cerdas Dalam Informasi BolmongPost Media Online Bolmong Raya Cerdas Dalam Informasi