Kotamobagu- Koi, atau secara spesifiknya berasal dari bahasa Jepang yang berarti ikan karper, atau dengan ikan air tawar yang bentuknya ikan hias. Nah, menariknya, budi daya ikan ini, dilakukan oleh Lukman Nur, warga Kelurahan Sinindian, Kotamobagu Timur, Jumat (28/5).

Usaha tersebut, bisa dibilang cukup menarik perhatian warga, tak hanya di Kotamobagu saja, melainkan hingga ke luar sejumlah Daerah. Ikan koi, yang merupakan bisnis dari Lukman Nur, per ekor diberi harga Rp5000 rupiah, itu pun tergantung ukurannya.

Tak itu saja, per ekor ada juga dijual jutaan rupiah, tergantung kualitasnya. Betapa tidak, bibit-bibit ikan itu, rupanya bukan lokalan saja yang menjadi induk dari ikan koi yang dikembangkan oleh pria ini, tetapi ada juga yang dipesan langsung olehnya dari Jepang.
Makanya usaha ini cukup menarik perhatian para pejabat dan penghobinya. Sehingga, setiap tiga bulan satu kali panen, Lukmat bisa memperoleh hasil puluhan juta rupiah. “Alhamdulillah, belum lama ini ada pengusaha yang memesan dengan harga 40 juta,” katanya.
Menurut Ketua Club Mobil Solid Kotamobagu ini, ikan koi yang ia kembangkan saat ini diperkirakan sebsnyak 50 ribu bibit ikan. Selain itu, dirinya juga mengembangkan bibit ikan nila sekira 20-an ekor dan lele sangkuriang, dua jenis ikan ini, dijual Rp35.000 ribu rupiah per kilo.
Saat disinggung soal modal dari usaha ini, ia mengatakan bersumber dari hubungan pertemanan. “Pertama saya cuma pinjam ikan koi kepada seorang teman, kemudian saya kembangkan dan belajar cara memproduksinya supaya bisa mendapat hasil yang berkualitas, hingga berkembang menjadi seperti sekarang,” jelasnya.
Soal lokasi atau tempat telaga untuk pembibitan, sudah ada sejak lama. “Sebelumnya, kolam-kolam ikan ini tempat usaha ayam daging yang saya kembangkan, tetapi tidak cocok. Makanya saya coba usaha ikan koi, nila dan lele, Alhamdulillah hasilnya baik,” terangnya.
Usaha ini, sudah sejak 3 tahun ia tekuni. “Kira-kira sudah tiga tahun ini, bahkan banyak pejabat yang memesan karena hobi dan ingin mereka jadikan ikan hias di kolam atau aqua rium,” ujarnya. “Kalau ada yang beli ikan nila atau lele, itu hanya untuk dimakan,” sambungnya, sembari tertawa, saat bercerita di tempat usahanya di Kelurahan Matali, Kotamobagu Timur.
Menariknya lagi, tak sampai pada ikan saja, melainkan pakan ikan juga, ia produksi sendiri dari alat-alat ia peroleh. “Dari kementrian Kelautan dan perikanan, waktu itu pembuatan pakan ikan mereka datang. Dan Alhamdulillah pelet yang dikelola saya sudah masuk uji LEP di Balai raboratorium perikanan suka bumi,” pungkasnya. (*)
BolmongPost | Cerdas Dalam Informasi BolmongPost Media Online Bolmong Raya Cerdas Dalam Informasi